Simposium Harlah Gerakan Diaspora Indonesia : Kemarin, Hari ini, dan Esok
- metasukmadani
- 7 hours ago
- 2 min read

Satu dari rangkaian kegiatan Perayaan 14 Tahun Gerakan Diaspora Indonesia adalah penyelenggaraan simposium pada Senin (27/7) di Ruang Aula Kantin Diplomasi Kemenlu RI, Jakarta. Bertema "Gerakan Diaspora Indonesia: Kemarin, Hari Ini, dan Esok", simposium ini merupakan ruang refleksi untuk melihat perjalanan Gerakan Diaspora Indonesia sekaligus merumuskan arah gerakan tersebut; juga menjadi ruang dialog antara diaspora, pemerintah, akademisi, pegiat budaya, dan masyarakat umum. Dari simposium ini diharapkan visi, misi, dan tujuan Gerakan Diaspora Indonesia dan strategi untuk meningkatkan dampak positif Gerakan Diaspora Indonesia terhadap penguatan jejaring dan pemberdayaan diaspora, pembangunan Indonesia, serta citra Indonesia di mata dunia dijalankan bersama.
Dalam sambutan pembuka, Dino Patti Djalal, penggagas Gerakan Diaspora Indonesia, menyampaikan bahwa kekuatan utama diaspora terletak pada banyaknya kontribusi yang kecil-kecil, tetapi dilakukan dengan tulus, tanpa mengharapkan pengakuan. Semangat inilah yang menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan Gerakan Diaspora Indonesia.
Pada diskusi pertama, Heru Hartanto Subolo, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, menjelaskan perkembangan kebijakan pemerintah terhadap diaspora sejak 2012. Ia memastikan bahwa perhatian pemerintah terhadap diaspora makin terstruktur, ditandai dengan pembentukan Direktorat Urusan Diaspora di Kemenlu RI. Namun, masih ada tantangan besar, terutama dalam kerangka hukum, identifikasi diaspora, data, serta penyusunan kebijakan pemerintah yang mampu mengintegrasikan berbagai potensi diaspora Indonesia.
Sementara itu, Evi Siregar, Deputi Presiden IDN Global, mengulas evolusi konsep diaspora dalam kajian ilmiah, kemudian menawarkan definisi diaspora Indonesia dan skema visi-misi dan tujuan Gerakan Diaspora Indonesia. Menurutnya, diaspora tidak lagi dipahami hanya sebagai individu yang tinggal di luar negeri, melainkan komunitas transnasional, yang terus memelihara hubungan sosial, budaya, dan ekonomi dengan tanah air sekaligus berkontribusi di negara tempat tinggalnya. Perubahan paradigma menyebabkan sebagian dari mereka tetap mempertahankan kewarganegaraaanya.
Di sisi lain, Lusie Susantono menggarisbawahi perlunya Badan Diaspora Indonesia. Gerakan diaspora membutuhkan organisasi yang lebih kuat, basis data yang terintegrasi, regenerasi kepemimpinan, serta kelembagaan yang mampu menggerakkan kolaborasi secara profesional dan berkelanjutan. Dengan demikian, diaspora dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mendukung pembangunan ekonomi, inovasi, dan penguatan citra Indonesia di tingkat global.
Pada diskusi sesi ketiga, Kartini Sarsilaningsih menyampaikan bahwa diaspora Indonesia merupakan aset strategis yang mampu menjembatani Indonesia dengan dunia melalui jejaring, pengetahuan, dan kolaborasi lintas negara. Harus ada visi menuju aksi. Ia menawarkan skema lima langkah agenda strategis, yaitu membuat peta jalan nasional diaspora, platform kolaborasi nasional yang terintegrasi, pusat data dan pengetahuan diaspora, program kolaborasi lintas batas, dan mitra strategis pembangunan.
Menutup simposium, Evi Siregar menyampaikan hasil diskusi, di antaranya bahwa Kongres Diaspora Indonesia 2012 telah melahirkan Gerakan Diaspora Indonesia yang berdampak terhadap penguatan jejaring diaspora Indonesia, peningkatan kontribusi dan sinergi diaspora dengan pemerintah dan masyarakat Indonesia, dan kesadaran untuk membentuk citra positif Indonesia di mata dunia. Untuk meningkatkan dampak positif tersebut, harus dibuat peta jalan diaspora yang berisi target yang terstruktur dan terukur, menjaga keunikan masing-masing, dan mempertahankan bahasa dan budaya Indonesia.
Sementara itu, Presiden IDN Global, Nathalia Widjaja, menyampaikan bahwa IDN Global telah menyusun kebijakan-kebijakan organisasi yang diharapkan menjadi dasar gerakan diaspora di setiap negara. Dalam waktu singkat, semoga dapat dibuat peta jalan diapora, untuk memastikan Gerakan Diaspora Indonesia berkelanjutan. (TU/ ES)




header.all-comments