top of page

Napak Tilas Gerakan Diaspora

Empat belas tahun lalu, sebuah deklarasi bersejarah di Los Angeles menandai lahirnya Gerakan Diaspora Indonesia. Berangkat dari kesadaran bahwa diaspora Indonesia tersebar di lima benua, terdiri dari warga negara Indonesia maupun warga keturunan Indonesia yang dipersatukan oleh kecintaan terhadap tanah air, lahirlah sebuah komitmen untuk membangun komunitas global diaspora yang mampu menjadi penghubung bagi Indonesia dan dunia. 


Semangat itulah yang kembali dihidupkan dalam acara Napak Tilas Gerakan Diaspora, yang diselenggarakan sebagai bagian dari Peringatan Hari Lahir Gerakan Diaspora Indonesia ke-14 di Auditorium JWC Senayan, Jakarta, Sabtu (25/7). Kegiatan ini menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang Gerakan Diaspora Indonesia sekaligus meneguhkan kembali komitmen IDN Global sebagai wadah kolaborasi diaspora yang menghubungkan gagasan, solusi, sumber daya, dan jejaring global untuk kemajuan Indonesia.


Acara diawali dengan pembacaan Deklarasi Diaspora Indonesia yang mengingatkan kembali tekad diaspora untuk membangun komunitas global, memperkuat keterikatan  dengan  Indonesia,  serta mengembangkan kemitraan demi kesejahteraan bersama. Setelah menyanyikan Mars Diaspora, peserta mendapatkan sambutan dari BINUS University yang menegaskan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan, dunia usaha, pemerintah, dan diaspora dalam menjawab tantangan global.


Sesi Napak Tilas menjadi inti acara, menghadirkan para Presiden IDN Global dari berbagai periode kepemimpinan bersama anggota Executive Board. Untuk pertama kalinya, para pemimpin yang pernah mengemban amanah organisasi berbagi refleksi, pengalaman, serta nilai-nilai yang membentuk perjalanan IDN Global selama empat belas tahun. Melalui perspektif masing-masing, mereka memperlihatkan bagaimana setiap periode kepengurusan memberikan kontribusi yang saling melengkapi dalam membangun organisasi yang semakin matang, inklusif, dan berdampak.



Dino Patti Djalal, sebagai penggagas Gerakan Diaspora Indonesia, mengisahkan lahirnya gagasan membangun sebuah jejaring global yang mampu menyatukan potensi diaspora Indonesia di seluruh dunia. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan yang mempertemukan para profesional, akademisi, pengusaha, pekerja migran, mahasiswa, seniman, hingga berbagai komunitas Indonesia dalam satu semangat pengabdian kepada tanah air.


Presiden IDN Global periode 2013–2015, Mohamad Al-Arief, menjelaskan bahwa fokus utama pada masa awal organisasi adalah membangun fondasi kelembagaan yang kuat agar IDN Global memiliki tata kelola yang baik, mampu memperkuat advokasi, memperluas jejaring, serta menjamin keberlanjutan organisasi di masa depan.


Monique Patricia, Dewan Eksekutif IDN Global periode 2015–2017, mengenang awal perkenalannya dengan Gerakan Diaspora Indonesia saat berada di Singapura. Baginya, kekuatan terbesar IDN Global bukan hanya program-programnya, melainkan budaya kekeluargaan yang terus terpelihara. Semangat bekerja tanpa pamrih dan tanpa agenda pribadi menjadi modal utama yang menjaga kepercayaan dan soliditas organisasi.


Pengalaman menghadapi tantangan besar disampaikan oleh Presiden IDN Global periode 2019–2021, Said Zaidansyah, yang memimpin organisasi di tengah pandemi COVID-19. Di tengah keterbatasan aktivitas tatap muka, IDN Global berhasil bertransformasi menjadi organisasi yang adaptif melalui berbagai kegiatan virtual, sehingga jejaring diaspora tetap terhubung dan terus memberikan manfaat bagi Indonesia.


Presiden IDN Global periode 2021–2023, Kartini Sarsilaningsih, menyoroti pentingnya membangun organisasi yang semakin    inklusif    melalui   pembentukan berbagai working group. Langkah tersebut membuka ruang yang lebih luas bagi diaspora dari berbagai profesi untuk mengabdikan pengalaman dan keahliannya bagi IDN Global maupun pembangunan Indonesia.


Sementara itu, Presiden IDN Global periode 2023–2025, Sulistiawan Wibisono, menegaskan bahwa organisasi hanya dapat terus berkembang apabila dijalankan oleh para relawan yang bekerja dengan dedikasi dan tanpa pamrih. Menurutnya, rasa bangga sebagai bangsa Indonesia harus senantiasa menjadi energi yang menyatukan diaspora di seluruh dunia. Melengkapi sesi tersebut, Heru Subolo, Ketua Penyelenggara Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mengisahkan bagaimana keberhasilan kongres bersejarah tersebut lahir dari kerja sama seluruh relawan. 


Pengalaman itu menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kolaborasi telah menjadi DNA Gerakan Diaspora Indonesia sejak hari pertama. Menutup rangkaian acara, Presiden IDN Global periode 2025–2027, Nathalia Widjaja, mengajak seluruh diaspora untuk menjadikan empat belas tahun perjalanan ini sebagai pijakan menuju masa depan. Menurutnya, tantangan global membutuhkan diaspora yang semakin adaptif, inovatif, dan mampu menghadirkan solusi melalui kolaborasi lintas negara, lintas profesi, dan lintas generasi.


Pesan tersebut sejalan dengan amanat Deklarasi Diaspora Indonesia yang menyatakan keyakinan bahwa diaspora Indonesia akan menjadi hub bagi gagasan, solusi, sumber daya, dan jaringan untuk membangun kesejahteraan bersama, sekaligus menjadi kekuatan bagi perdamaian dan kemajuan dunia. 


Empat belas tahun perjalanan ini menunjukkan bahwa kekuatan IDN Global tidak dibangun oleh satu generasi kepemimpinan semata, melainkan oleh kesinambungan visi, kolaborasi, dan semangat pengabdian yang diwariskan dari satu periode ke periode berikutnya. Napak Tilas Gerakan Diaspora menjadi bukti bahwa estafet kepemimpinan tersebut terus menguatkan peran IDN Global sebagai organisasi yang menghubungkan diaspora Indonesia di seluruh dunia, memperluas peluang kolaborasi, dan mendorong terwujudnya kesejahteraan bersama bagi Indonesia dan diasporanya. (SS)



Comments


bottom of page