Usman Naito dan Perjuangan Pendidikan Diaspora Indonesia di Jepang
- metasukmadani
- 2 days ago
- 4 min read

Dari Magetan ke Jepang: Awal Perjalanan Diaspora Usman Naito
Namanya Usman Naito. Pria asal Magetan tersebut merupakan diaspora asal Indonesia yang telah hampir 27 tahun tinggal di Jepang. Selama itu, ia tidak hanya membangun usaha lintas sektor, tetapi juga menyaksikan langsung kehidupan pekerja migran Indonesia yang datang, bekerja, lalu pulang tanpa banyak pilihan. Dari pengalaman panjang sebagai diaspora itulah Usman memulai langkah yang jarang diambil: memperjuangkan akses pendidikan tinggi bagi sesama pekerja migran Indonesia, agar kerja keras di negeri orang tidak berhenti pada upah, tetapi juga membentuk nilai diri, cara pandang, dan masa depan yang lebih baik.
Berawal datang ke Jepang sebagai seorang pekerja pada awal tahun 2000, Usman memperjuangkan gagasan tersebut dengan memanfaatkan kemampuan dan jejaring yang ia miliki. Setelah berjuang selama hampir dua dekade dengan penuh lika liku, kini Usman berhasil membangun Hamaren Education Center (HEC). HEC adalah lembaga pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia yang berfokus pada persiapan, pendampingan, dan peningkatan kapasitas diaspora Indonesia, khususnya yang bekerja di Jepang. Berdiri sejak 2017, HEC berperan sebagai jembatan antara dunia kerja dan pendidikan tinggi dengan menyediakan pelatihan bahasa Jepang, pembinaan mental dan disiplin, serta fasilitas pendidikan formal melalui kerja sama dengan sejumlah universitas di Indonesia, seperti Universitas Terbuka (UT), Universitas Mercubuana, dan BINUS University. HEC sendiri merupakan bagian dari Hamaren Corporation, unit usaha lintas sektor di Jepang dan Indonesia, yang kini berkembang menjadi grup dengan sekitar 15 perusahaan.
Wisuda Universitas Terbuka di Jepang, Buah Perjuangan Panjang Pendidikan Diaspora
Pada 25 Januari 2026, Sentra Layanan Universitas Terbuka Jepang berhasil meluluskan 33 wisudawan yang berasal dari berbagai kota di Jepang dan berstatus sebagai pekerja migran, peserta magang, serta diaspora Indonesia lainnya. Wisuda ini merupakan kali kedua dari wisuda yang pernah dilaksanakan pada Desember 2024 silam. Dari dua periode wisuda tersebut, tercatat lebih dari 100 mahasiswa Universitas Terbuka di Jepang telah berhasil menyelesaikan studi S1-nya. Dalam sambutanya, Usman menyampaikan bahwa wisuda ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan diaspora Indonesia yang belajar di tengah keterbatasan waktu, jarak, dan tuntutan kerja.
Bagi Usman, momen wisuda ini juga merupakan puncak dari perjuangannya dalam membuka akses pendidikan bagi diaspora Indonesia di Jepang. Sejak mendirikan HEC, visinya adalah memfasilitasi anak-anak bangsa—khususnya pekerja migran—agar dapat belajar dan meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan.
Ia juga menekankan bahwa wisuda ini menandai kenaikan kelas dari para pekerja migran. Banyak mahasiswa datang dari latar belakang sederhana dan membiayai pendidikan mereka sendiri melalui kerja keras di Jepang. Dengan bekal pendidikan tinggi, baik mereka yang tetap tinggal di Jepang maupun yang kembali ke Indonesia diharapkan mampu berkontribusi lebih besar, memperbaiki citra bangsa, dan menempati peran strategis sebagai pengambil keputusan.
Wisuda ini juga menjadi tanda pengakuan akademik yang selama puluhan tahun belum dimiliki banyak pekerja migran Indonesia di Jepang, sekaligus bukti bahwa pendidikan adalah kunci untuk meningkatkan martabat dan masa depan diaspora.
Ritme Disiplin di Balik Peran CEO dan Penggerak Pendidikan
Melihat semangat dan dedikasinya dalam memperjuangkan pendidikan di Jepang, penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang aktivitas sehari-harinya. Sebagai seorang CEO sekaligus founder Hamaren Corporation, Usman merupakan sosok pekerja keras, disiplin dan sangat menghargai waktu. Ia menjalani ritme kerja yang disiplin dan konsisten. Hal ini tercermin dari kesehariannya yang dimulai sejak pukul 06.00 pagi.
Setiap pagi diawali dengan senam singkat, pembacaan filosofi dan pedoman kerja, serta briefing bersama seluruh karyawan tanpa memandang jabatan. Aktivitas dilanjutkan dengan berbagai rapat, peninjauan laporan, dan pertemuan klien hingga larut malam. Bahkan dalam kondisi tertentu, meski baru pulang pukul 03.00 dini hari, Usman tetap mengikuti rapat pukul 06.30 pagi—mencerminkan keyakinannya bahwa ketepatan waktu adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan fondasi kepemimpinan yang berkelanjutan.
Mobilitasnya pun terhitung tinggi. Dalam sebulan ia rutin bolak-balik Jepang–Indonesia sebanyak satu hingga empat kali. Bahkan ia pernah menjalani penerbangan hanya satu hari berada di Jepang sebelum kembali ke Indonesia keesokan harinya. Hal tersebut ia lakukan untuk memantau langsung pusat pelatihan yang tersebar di sepuluh titik di Pulau Jawa.
Disiplin dan Ketepatan Waktu, Nilai Hidup yang Dipelajari dari Jepang
Sebagai sosok yang inspiratif, Usman mengakui bahwa ia belajar banyak dari budaya Jepang. Menurutnya, nilai paling penting yang didapatkannya adalah ketepatan waktu dan kedisiplinan. Di Jepang, tepat waktu bukanlah sesuatu yang istimewa, melainkan kewajiban dasar. Ketika seseorang tidak tepat waktu, nilainya langsung menurun karena dianggap kurang bertanggung jawab dan tidak menghargai pekerjaannya.
Bagi Usman, ketepatan waktu adalah pintu masuk menuju disiplin diri. Disiplin terhadap diri sendiri menjadi fondasi bagi keberhasilan jangka panjang, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tokoh besar dunia yang memulai kesuksesannya dari kebiasaan disiplin. Nilai ini, menurutnya, perlu dijalankan secara konsisten dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar kita mampu berkembang, dipercaya, dan menyelesaikan tanggung jawab dengan baik dimanapun kita berada.
Pendidikan sebagai Jalan Pulang yang Memberi Makna
Sebagai penutup, Usman memberikan pesan untuk para generasi muda. Ia menegaskan bahwa kuliah bukan sekadar mengejar gelar, melainkan bentuk “keadilan” bagi diri sendiri untuk terus berkembang. Menurutnya, banyak pekerja migran merasa terhalang oleh usia, keterbatasan waktu, atau beban kerja. Padahal, pendidikan justru mengubah cara pandang, memperluas perspektif, dan bahkan bisa meningkatkan taraf hidup manusia. Melalui pendidikan, akal dan jiwa kita mendapatkan haknya.
Ia juga menekankan bahwa keterbatasan biaya seharusnya tidak menjadi penghalang. Sebab, dengan kemajuan teknologi saat ini, ada banyak cara untuk terus belajar. Ada banyak sekali beasiswa yang tersebar asal kita mau mencari. Kuncinya adalah kemauan, disiplin dan kerja keras. Pendidikan layak untuk diperjuangkan karena pendidikan adalah investasi jangka panjang yang dapat mengubah nasib hidup kita.
Kisah Usman Naito menunjukkan kita bahwa menjadi seorang diaspora bukan sekadar tentang bekerja di negeri orang, tetapi tentang bagaimana hidup ini diberi arah dan makna. Melalui disiplin, ketekunan, dan komitmen pada pendidikan, ia membuktikan bahwa keterbatasan waktu, jarak, dan usia bukan penghalang untuk tumbuh. Dari Jepang, Usman tidak hanya membangun usaha dan lembaga, tetapi juga membuka jalan bagi sesama diaspora untuk melihat masa depan yang lebih luas—bahwa ilmu pengetahuan adalah bekal yang tak pernah habis, dan perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk belajar. (TU)




Comments