Menguatkan Strategi Mitigasi Bencana Berbasis Lingkungan dan Kearifan Lokal
- metasukmadani
- 3 days ago
- 3 min read

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir tahun 2025 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem mitigasi bencana yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Peristiwa tersebut kembali mengingatkan bahwa tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya intensitas bencana memerlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga preventif melalui kolaborasi lintas sektor.
Menyikapi hal tersebut, Indonesian Diaspora Network (IDN) Global bersama ILUNI Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (ILUNI SIL UI), Dewan Pengurus Pusat Diaspora Global Aceh (DGA), dan Majelis Adat Aceh (MAA) menyelenggarakan Webinar Internasional bertajuk “Pembelajaran Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Aceh: Strategi Mitigasi Berbasis Pengelolaan Lingkungan Global dan Kearifan Lokal.” Webinar ini mempertemukan akademisi, profesional, pemerintah daerah, tokoh adat, organisasi profesi, dan diaspora Indonesia dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman, praktik terbaik, serta merumuskan strategi mitigasi bencana yang memadukan ilmu pengetahuan, pengalaman global, dan kearifan lokal.
Membuka webinar, President IDN Global, Nathalia Widjaja, menegaskan pentingnya peran diaspora Indonesia dalam menjembatani pengalaman global untuk mendukung pembangunan nasional dan penguatan mitigasi bencana. Menurutnya, jejaring internasional, pengalaman profesional, dan pengetahuan yang dimiliki diaspora merupakan modal penting dalam memperkaya solusi bagi berbagai tantangan pembangunan di Indonesia, termasuk dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Ia juga menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian dari rangkaian FGD “Ketahanan Pangan, Energi, dan Air” yang akan diselenggarakan ILUNI SIL UI dan IDN Global pada 28 Juli 2026 di Jakarta sebagai forum untuk merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis kajian ilmiah dan pengalaman praktis. Senada dengan itu, Ketua ILUNI SIL UI, Dr. Andre Noto Hamijoyo, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur, tetapi juga harus memperkuat kapasitas masyarakat, tata kelola lingkungan, serta kebijakan yang didukung ilmu pengetahuan dan hasil riset.
Diskusi yang dipandu oleh Dr. Fachruddin Tukuboya menghadirkan keynote speaker, Dr. Ir. Mustafa Abubakar, Ketua Umum DPP Diaspora Global Aceh, yang menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan diaspora. Menurutnya, tantangan lingkungan yang dihadapi Aceh tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Ia juga menyoroti pentingnya peran diaspora Aceh melalui transfer ilmu pengetahuan, jejaring internasional, dan pengembangan riset.
Diskusi kemudian menghadirkan berbagai perspektif yang saling melengkapi. Galih Dinanta, Ph.D. Candidate di McGill University, Kanada, memaparkan pengalaman pertambangan adaptif di Amerika Utara sebagai rujukan pengembangan regulasi pertambangan skala kecil di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa tata kelola pertambangan yang baik harus mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, konservasi lingkungan, dan keselamatan masyarakat sehingga dapat mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Sementara itu, M. Arif Syahrijal, S.T., MBA, Kepala Kajian Mineral Industri dan Pertambangan Rakyat/Skala Kecil (KMIPR) PERHAPI, menjelaskan pentingnya penerapan Good Mining Practice, reklamasi pascatambang, serta minimalisasi dampak hidrologis sebagai bagian dari praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Menurutnya, pengelolaan pertambangan yang baik tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan mengurangi potensi bencana akibat kerusakan ekosistem.
Dari perspektif internasional, Dr. Surya Darma, Vice President Human Capital IDN Global, membagikan pembelajaran dari Selandia Baru melalui konsep kaitiakitanga, yaitu filosofi yang menempatkan manusia sebagai penjaga alam. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga keseimbangan lingkungan bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Mundzir Basri, PhD, Technical Director – Hydrogeology Modeling AtkinsRéalis, menekankan pentingnya pemodelan hidrologi, analisis daerah aliran sungai, dan pengambilan keputusan berbasis data dalam merancang infrastruktur yang lebih tangguh terhadap banjir. Pengalaman internasional, menurutnya, memberikan banyak pelajaran yang dapat diadaptasi untuk memperkuat sistem mitigasi bencana di Indonesia.
Melengkapi pembahasan, Dr. R. H. W. Yudosubroto, President Director Jakarta Rescue Training Centre, mengulas dampak kerusakan ekologis akibat aktivitas pertambangan dan pembalakan liar terhadap meningkatnya risiko banjir, erosi, dan kerusakan lingkungan dalam jangka panjang. Ia menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan yang konsisten sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.
Sementara itu, Prof. Yusri Yusuf, M.Pd., Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), menegaskan bahwa lembaga adat seperti Panglima Uteun, Panglima Laot, dan Keujruen Blang merupakan warisan kearifan lokal yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Menurutnya, nilai-nilai tersebut perlu terus diperkuat dan dipadukan dengan pendekatan ilmiah modern agar menjadi fondasi strategi mitigasi bencana yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Turut hadir dalam webinar tersebut, Wakil Bupati Pidie Jaya, H. Hasan Basri, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum kolaboratif ini. Ia berharap berbagai gagasan dan rekomendasi yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran diskusi, tetapi dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam memperkuat mitigasi bencana, pengelolaan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan di Aceh melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan diaspora. (SS)




Comments