Berita IDN Global

Selengkapnya
Festival Batik dan Ikat 2021 di Taiwan

Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Indonesia Diaspora Network (IDN) Taiwan kembali menggelar Festival Batik & Ikat 2021 di Nanmen Park Museum Nasional Taiwan pada Minggu (3/10). Acara ini menampilkan serangkaian kegiatan budaya Indonesia, termasuk tarian dan paduan suara tradisional, serta seni batik. Acara ini juga menampilkan peragaan busana batik. Project Manager Event Inggrid Chandra mengatakan batik dan budaya tenun ikat merupakan warisan budaya yang diteruskan secara turun temurun. Sehingga untuk menjaga kelestarian budaya tersebut, IDN Taiwan menyelenggarakan festival bertema batik setiap tahun untuk merayakan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Tanggal 2 Oktober ini diperingati sebagai Hari Batik Nasional usai  UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi kepada Indonesia pada tahun 2009. “Berawal dari kecintaan yang mendalam terhadap budaya dan tanah air Indonesia, kami selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mengapresiasi dan melestarikan budaya batik dan tenun ikat dengan teman-teman internasional kami," kata Chandra. Perwakilan dari Kantor Ekonomi dan Perdagangan Indonesia (KDEI) di Taipei Budi Santoso dalam pidato pembukaannya mengatakan acara ini sekaligus sebagai momentum untuk memamerkan keindahan batik, terutama dengan masyarakat di luar Indonesia. Dia juga mendorong masyarakat di seluruh dunia untuk memakai pakaian batik, mengingat kain ini sudah mudah untuk didapatkan di seluruh dunia. “Hari Batik mengingatkan kita bahwa kita memiliki peradaban yang penuh warna. Batik adalah catatan sejarah keindahan,” kata Budi. Festival Batik yang digelar setiap tahun sejak 2017 ini dihadiri oleh ratusan orang baik masyarakat Indonesia yang berbasis di Taiwan dan warga asing. Berkaitan dengan adanya pembatasan Covid-19 yang diterapkan oleh pihak museum, peserta yang hadir hanya dibatasi 50 orang di dalam ruangan dan 80 orang di luar dengan pembatasan waktu tertentu. (KD/ IDN Taiwan)

-

Webinar : When Merdeka Came to Australia

IDN Victoria menggelar diskusi interaktif bertajuk “When Merdeka Came to Australia” pada Sabtu (23/10) dengan menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Member of Royal Australian Historical Society Initiator Black Armada Exhibition Anthony Liem, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia sekaligus Putri Proklamator Indonesia, Bung Hatta yakni Meutia Farida Hatta, Founder Gerakan Revolusi Pemuda (GARUDA) R.M.E Tjokrosantoso dan dimoderatori oleh Vice President IDN Victoria Devi Shanty. Sebelum webinar dimulai, Konsulat Jenderal RI di Victoria dan Tasmania Kuncoro Giri Waseso menyampaikan kata sambutannya. Webinar ini mengupas hubungan Indonesia dan Australia yang telah dibangun dan terjalin sejak lama. Bahkan semenjak proklamasi diumumkan melalui siaran radio, dimana Indonesia meminta dukungan terhadap negara lain atas kemerdekaan Indonesia. Dan Australia adalah negara asing pertama yang mendukung kemerdekaan RI. Tjokrosantoso mengatakan hal ini terlihat saat Presiden Sukarno beserta istrinya Fatmawati menerima Menteri Luar Negeri Australia PC Spender pada 3 Januari 1950. “Usai kemerdekaan diproklamasikan, Belanda menilai Bung Karno melakukan aksi pemberontakan. Sehingga pada pertengahan tahun 1947 Indonesia terus melakukan demonstrasi dan mendapat dukungan dari Australia. Bahkan dimuat di koran Sydney Morning Herald pada 26 Juli 1947,” ujar Tjokrosantoso. “When Merdeka Came to Australia” merupakan webinar seri pertama dan rencananya akan diselenggarakan setiap bulan hingga diselenggarakannya pameran Indonesia-Australia yang rencananya akan berlangsung April-Mei 2022 di Melbourne dan Bali. (IW/ IDN Victoria)

-

IDN Global-BNI Tandatangani Nota Kesepahaman

Indonesian Diaspora Network (IDN) Global dan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk. menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama pada Jumat (21/10) di sela-sela penyelenggaraan acara Trade Expo Indonesia 2022 di ICE BSD, Tangerang. Dalam proses penandatanganan ini masing-masing diwakili Presiden IDN Global Kartini Sarsilaningsih dan pgs Pemimpin Divisi Internasional BNI Wan Andi Arjadi serta disaksikan oleh DirJen PEN, Kementerian Perdagangan Didi Sumedi. Turut hadir Dubes RI Qatar Ridwan Hassan, KonJen RI Dubai K. Candra Negara serta Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan Merry Maryati. Adapun tujuan dari Nota Kesepahaman ini adalah untuk memfasilitasi dan meningkatkan kerjasama antara IDN Global-BNI dalam upaya pengembangan ekonomi Diaspora Indonesia. Ruang lingkup kerjasama ini di antaranya adalah sosialisasi produk BNI bagi Diaspora dan program BNI Xpora kepada para anggota IDN Global, penyediaan informasi mengenai  potensi pasar bagi produk-produk Indonesia di negara-negara domisili para anggota IDN Global, pelaksanaan kegiatan business matching antara Diaspora dengan pelaku usaha Indonesia, serta menyelenggarakan kegiatan-kegiatan BNI dan IDN Global lainnya yang bertujuan untuk pengembangan pasar global bagi para pelaku usaha di Indonesia yang disepakati bersama.   Nota Kesepahaman ini berlaku pada tanggal penandatanganan dan akan tetap berlaku sampai dengan berakhirnya masa kepengurusan Executive Board IDN Global periode tahun 2021 – 2023 atau tanggal 31 Agustus 2023. Kendati demikian, kerjasama yang diatur dalam Nota Kesepahaman ini tidak eksklusif dan masing-masing pihak boleh mengadakan perjanjian yang serupa dengan pihak ketiga. Usai nota kesepahaman ditandatangani, IDN Global menerima souvenir berupa plakat kerjasama dari BNI.   Pihak BNI dan IDN Global kemudian menyelenggarakan pertemuan singkat mengenai konsep kerjasama yang akan dilakukan. Pgs Pemimpin Divisi Internasional BNI Wan Andi Arjadi mengatakan bahwa saat ini manajemen internalnya tengah mempersiapkan diri untuk menjadikan BNI sebagai Bank Internasional dari Indonesia, mengingat BNI merupakan bank pemerintah yang memiliki cabang luar negeri terbanyak. Saat ini perwakilan kantor cabang BNI di luar negeri sudah berada di Singapura, Hong Kong, Tokyo, Seoul, London, New York dan yang terbaru adalah di Amsterdam, Belanda. "Dengan adanya perwakilan cabang di luar negeri ini, kami menyambut hangat kerjasama dengan Diaspora Indonesia khususnya dalam penyediaan pinjaman modal dengan bunga rendah," ujarnya. Pertemuan ini turut dihadiri oleh sejumlah Diaspora Entrepreneur dari berbagai negara seperti Singapura, Australia, Belanda, Qatar, Rusia, serta Amerika Serikat. Salah satu Executive Board IDN Global sekaligus Diaspora Indonesia di Belanda Renu Lubis turut memberikan testimoninya perihal kemudahan peminjaman modal dari pihak BNI. "Saya tinggal di Belanda selama 40 tahun lebih dan memiliki usaha kuliner bernama Toko Iboe Tjilik yang sudah berdiri puluhan tahun lalu. Adanya akses pinjaman modal usaha dari BNI ini tentu saja kian memudahkan para Diaspora Entrepreneur dalam melakukan ekspansi usahanya," ujar Renu. Renu juga berharap program dari BNI ini turut mendorong Diaspora Indonesia untuk membuka usahanya di luar negeri, termasuk membuka restoran Indonesia sehingga turut mendukung program pemerintah dalam menduniakan kuliner Indonesia. (IDN Global)

-

Video IDN

Opini

Cerita Inspiratif : IDN Taiwan Sukses Menggelar Festival Batik di Taiwan

Para diaspora Indonesia di Taiwan kembali mengibarkan bendera merah putih. Mereka baru saja menyelenggarakan Festival Batik dan Ikat 2021 di Museum Nasional Taiwan (Nanmen Branch). Festival ini merupakan festival yang kelima sejak diusung pada tahun 2017. Acara tersebut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Taiwan dan beberapa perwakilan negara asing. Oleh karena kesuksesan IDN Taiwan dalam penyelenggaran festival batik selama lima tahun berturut-turut, dua dari mereka, Kartika Dewi dan Linda Tjindawati Arifin, diminta menjadi konsultan museum-museum. Tambahan lagi, pada tahun ini untuk pertama kalinya IDN Taiwan diundang berpartisipasi dalam Bulan Indonesia, yang diselenggarakan National Palace Museum (Southern Branch). Ini suatu prestasi yang luar biasa. Bagaimana IDN Taiwan sampai bisa dipercaya museum-museum besar di Taiwan? “Pemerintah Taiwan dan LSM di sini selalu mendukung kegiatan warga asing dalam memperkenalkan kebudayaan mereka. Ada satu kebijakan pemerintah yang namanya New South-bound Policy, yang mendorong warganya untuk lebih mengenal negara-negara asing. Saya melihat Kementerian Kebudayaan Taiwan melalui Museum Nasional Taiwan sangat mendukung kebijakan tersebut. Dan kesempatan Ini harus dimanfaatkan.” Demikian penjelasan Kartika Dewi. Bagaimana muncul ide membuat festival batik? Ketika IDN Taiwan menggelar acara “Afternoon with Angklung” di Taipei Fine Art Museum, para diaspora Indonesia datang dengan memakai batik yang coraknya beragam dan indah. Kebetulan salah satu yang hadir adalah perwakilan dari Museum Nasional Taiwan. Ia sangat terkesan dengan batik-batik yang dikenakan. Melihat antusias perwakilan dari Museum Nasional Taiwan itu, Kartika Dewi, yang memimpin acara tersebut, langsung menawarkan kerjasama membuat festival batik. Pucuk dicinta, ulam tiba. Ternyata National Taiwan Museum bersedia menjadi partner IDN Taiwan untuk penyelenggaraan sebuah festival batik. Dan hanya dalam waktu 2 (dua) minggu persiapan (agar bersamaan dengan Hari Batik Nasional), akhirnya tonggak bersejarah itu terpasang. Meskipun dukungan (termasuk dana) yang mereka terima kecil, yang terbatas pada tempat dan sarana pendukung lain, mereka tetap mengerjakannya dengan sepenuh hati. “Ini merupakan hasil brainstorming panitia, yang bekerja keras tanpa memikirkan imbalan apapun, untuk melahirkan sesuatu yang baru. Kami hanya punya ide dan tenaga,” kata Kartika Dewi. Merasa puas dengan hasil kerja IDN Taiwan, pihak museum memberikan kesempatan untuk menyelenggarakan festival batik dari tahun ke tahun. Tempat penyelenggaraan pun lebih baik dan dana yang diberikan juga lebih besar. Maka dibuatlah tema-tema berbeda: Festival Batik (2017), Festival Batik dan Tenun (2018), Festival Batik dan Jumputan (2019), Festival Batik dan Lurik (2020), dan Festival Batik dan Ikat (2021). “Bagi IDN Taiwan, ini merupakan sebuah stepping-stone untuk lebih memperbaiki kekurangan dalam penyelenggaraan sebelumnya, dan membuat kami lebih berani mengundang lebih banyak diaspora Indonesia untuk meramaikan acara, terutama mengajak orang-orang yang berbakat untuk menyumbangkan acara.” “Kami membangun kerjasama yang baik dengan Museum Nasional Taiwan. Kami berusaha memberikan dan menampilkan yang terbaik pada setiap festival batik. Animo masyarakat yang begitu besar membuktikan bahwa acara kami sangat ditunggu-tunggu, dan tentu kami tidak ingin mengecewakan mereka.” “Ternyata, kalau kita bersatu, kita bisa membuat dan menyelenggarakan sesuatu yang besar. Kegiatan ini bukan semata promosi kebudayaan, tetapi warisan yang harus diteruskan kepada anak cucu kita yang hidup di luar negeri. Mereka harus diikutsertakan secara aktif,” ungkap Kartika Dewi menutup pembicaraan. (ES)

Selengkapnya...

Profil

Profil Diaspora : Said Zaidansyah

Nama Said Zaidansyah sudah tidak asing lagi bagi diaspora Indonesia. Pada periode lalu (2019-2021) ia menjabat sebagai Presiden IDN Global. Namun, partisipasinya dalam kegiatan kediasporaan Indonesia sangatlah panjang, yang berawal ketika ia diterima sebagai Young Professional Asian Development Bank (ADB), dalam sebuah program perekrutan pemuda berpotensi untuk mengembangkan karir di institusi bergengsi tersebut. Saat itu ia berumur 29 tahun, sedikit dibawah usia maksimal yang disyaratkan ADB pada waktu itu. Diterima menjadi Young Professional ADB pada tahun 2002 merupakan sebuah prestasi besar dan kebanggaan, bukan saja bagi Said Zaidansyah dan keluarganya, melainkan juga bagi Indonesia. Itu tidaklah mudah, karena harus bersaing dengan pemuda-pemudi berpotensi dari berbagai negara. “Saya Young Professional (YP) ADB terakhir dari Indonesia,” katanya. Belum ada lagi pemuda-pemudi Indonesia lain yang menjadi YP di ADB setelahnya. “Para pemuda-pemudi Indonesia umumnya memiliki kemampuan teknis yang baik. Namun harus lebih assertif, tampil lebih percaya diri, serta berkomunikasi dengan bahasa yang jelas dan tegas,” demikian pendapatnya. Pekerjaan di ADB tentulah banyak menyita waktu. Namun, di sela-sela padatnya aktifitas di kantor, ia masih mempunyai waktu untuk aktif dan berpartisipasi penuh dalam kegiatan kediasporaan Indonesia, terutama di IDN Global. Baginya, berinteraksi dengan komunitas adalah hal yang penting. “Ayah saya, semasa hidupnya, selalu mengingatkan anak-anaknya agar bisa menjadi contributing member of the society. Kita harus bermanfaat untuk sesama. Beliau selalu mengingatkan pepatah yang mengatakan bahwa yang terbaik di antara kita adalah yang bermanfaat untuk banyak orang. Itu menjadi pegangan saya dalam berinteraksi di suatu komunitas,” katanya menjelaskan. “Sekarang saya Deputy Country Director ADB di Indonesia dan saya sangat sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, tetapi kesibukan yang paling padat adalah ketika saat yang bersamaan saya memimpin persiapan penyelenggaraan Congress of Indonesian Diaspora ke-6 (CID-6). Namun, karena semua itu dilakukan dengan senang hati dan ikhlas, segala urusan menjadi mudah”, imbuhnya. Ia berucap keluarga juga bagian yang penting dalam hidup. Sehingga harus bisa membagi waktu antara pekerjaan, organisasi dan keluarga. Harus disiplin dengan waktu dan menjaga komitmen yang sudah dibuat adalah hal penting, karena semua itu adalah tanggung jawab dan harus dituntaskan sebaik-baiknya. "Selain itu jangan lupa berolahraga. Walaupun ada kesibukan yang luar biasa, saya selalu usahakan untuk bisa mendapatkan 10,000 langkah sehari dan bersepeda pada hari Sabtu agar tetap bugar dan sehat di tengah padatnya kegiatan. Berolahraga bisa dilakukan dengan keluarga atau sahabat. Jadi, tiga hal sekaligus bisa dicapai: kesehatan, hubungan dengan keluarga, dan hubungan sosial”, kata Said. Mengenai berkontribusi diaspora Indonesia terhadap kemajuan dan pembangunan bangsa, ia berpendapat bahwa walaupun masih banyak hal yang harus ditingkatkan, kita bersyukur bahwa sekarang sudah ada upaya konkrit pemerintah untuk mengajak diaspora terlibat aktif dalam pembangunan bangsa. Jadi beliau cenderung ambil perspektif glass half-full. Sekarang sudah ada alokasi untuk diaspora dalam perekrutan ASN, juga ada upaya untuk mensinergikan potensi diaspora bertalenta dengan masyarakat Indonesia di tanah air. Kita juga perlu hargai upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan yang lebih baik kepada WNI yang berada di luar negeri, khususnya PMI. “Mengingat jumlah yang besar dan potensi tinggi, saya pikir pemerintah perlu membuat lembaga khusus menangani diaspora dan sinergitasnya dengan tanah air untuk kemajuan dan kemaslahatan bangsa dan negara. Upaya pemberdayaan diaspora masih belum terkoordinasi secara baik. Selain itu, perlu dipertimbangkan adanya dapil khusus diaspora, karena aspirasi dan permasalahan diaspora tentu berbeda dengan pemilih dari dapil lain. Dengan jumlah yang besar, yang mencapai sekitar 8 juta, adalah layak bagi diaspora memiliki wakilnya sendiri. Yang juga penting untuk terus diperjuangkan adalah dwikewarga-negaraan secara terbatas yang memungkinkan para diaspora Indonesia untuk tetap menjadi WNI ketika ia harus mengambil kewarganegaraan lain, karena satu alasan tertentu”, Bisa saja kepada mereka kemudian dibatasi haknya dalam menduduki jabatan publik atau akses ke rahasia negara", ujarnya. Ditanya mengenai sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya, Said berkata sangat beruntung memiliki sosok ayah yang dapat dijadikan panutan. Meskipun kakeknya buta huruf, ayahnya mampu mencapai gelar doktor dari sebuah universitas terbaik di Amerika Serikat. Semasa hidup, ayahnya pernah menjadi politisi, aparatur sipil negara, serta akademisi dan Guru Besar. Sebelum pensiun, ayahnya sempat menjadi penasehat KPK dan aktivis anti-korupsi. Posisi tinggi di pemerintahan ini ia raih karena kejujuran dan integritasnya. “Harta yang paling berharga yang kami peroleh darinya bukan materi namun kesadaran akan pentingnya menjaga iman, menggapai ilmu yang tinggi, memelihara integritas, dan peduli terhadap sesama,” ujarnya. “Sebagai diaspora Indonesia, mari kita terus mengejar prestasi di mana pun kita berada. Tunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia itu mampu,” demikian ajak Said Zaidansyah menutup percakapan.

Selengkapnya...
Profil Diaspora : Mohammad Al-Arief

Nama Mohamad Al-Arief tentu tidak asing lagi bagi Diaspora Indonesia. Bukan karena pernah menjadi Presiden IDN Global (yang pertama, periode 2013-2015), tetapi juga karena ia salah satu pendukung tercetusnya Congress of the Indonesian Diaspora (CID) pertama yang saat itu digagas oleh Dubes Dino Patti Djalal, di Los Angeles pada tanggal 6-8 Juli 2012, dan Indonesian Diaspora Network (IDN) Global. Ketika ditanya mengenai ide pembentukan IDN Global, ia menjelaskan bahwa, setelah CID pertama diselenggarakan, ada keinginan kolektif untuk memastikan semangat positif yang ada pada kongres terus berlanjut. Ada banyak aspirasi dan rencana kolektif dari kongres yang perlu ditindaklanjuti dan diwadahi. Atas dasar itu, dan sebagai ekstensi dari kongres, dicetuskan ide bersama untuk membangun sebuah wadah organisasi diaspora yang sifatnya global. "Memang dinamika diaspora Indonesia sudah sangat bagus, solid, dan aktif di berbagai simpul-simpul lokal di belahan dunia. Energi positif diaspora di tingkat akar rumput luar biasa. Muncul banyak inisiatif lokal untuk memberdayakan diaspora dan memberikan sumbangsih kepada tanah air. Namun, saat itu belum ada wadah organisasi diaspora yang global, untuk connecting the dots dan menggali potensi kolektif secara menyeluruh –harnessing the power of our diaspora. IDN Global muncul dari ide dasar tersebut." "Pada CID kedua, di Jakarta tahun 2013, saya terpilih menjadi Presiden IDN Global. Entah apa alasan teman-teman memilih saya saat itu, walau sebenarnya saya tidak berambisi untuk menjadi ketua. Akan tetapi, bagi saya itu merupakan sebuah kepercayaan dan amanah. Bersama pengurus dan tim sekretariat, saat itu kami berfokus untuk membangun fondasi organisasi. Sebagai relawan, semua bekerja secara sukarela di tengah tugas profesional dan komitmen keluarga. Semua harus bisa membagi waktu untuk mengurus dan membangun organisasi dari nol." Mengenai kemajuan-kemajuan yang dicapai IDN Global selama 10 tahun ini, Mohamad Al-Arief berpendapat bahwa sekarang IDN Global sudah tumbuh dengan cukup baik dan berkiprah dalam berbagai inisiatif di tingkat global, nasional, maupun lokal. Ia melihat bahwa kepengurusan saat ini telah membawa estafet untuk melanjutkan ikhtiar dan niat awal terbentuknya IDN Global, yaitu untuk berkontribusi terhadap kemajuan sesama diaspora dan tanah air. "Namun, kita paham bahwa tidak ada hasil yang instan. Semua hal harus melalui proses. Kemajuan didapat secara bertahap. Sifatnya selalu work in progress. Yang penting adalah bahwa kita bekerja sama dan melakukannya secara kolektif. Perjuangan harus berlanjut. Kita terus berusaha memaksimalkan potensi kontribusi diaspora untuk tanah air, sesuai semangat Diaspora Bhakti Bangsa. Kita membangun kebersamaan melalui prinsip connecting the dots, dan melakukan berbagai upaya advokasi untuk berbagai aspirasi yang muncul dari kalangan diaspora sendiri." Mohamad Al-Arief berkarir di The World Bank selama lebih dari dua dekade -saat ini menangani sektor infrastruktur secara global di institusi tersebut- dan sempat terpilih menjadi Chair Indonesian Staff Association di World Bank Group dan International Monetary Fund. Ini bukan hanya membuat bangga para diaspora Indonesia, melainkan juga seluruh Indonesia. Sebuah kesuksesan yang begitu istimewa. Mengenai hal ini, ia memberikan pandangannya bahwa Indonesia mempunyai potensi human capital yang luar biasa untuk dapat berkiprah di berbagai bidang, memiliki banyak talenta yang mampu berkompetisi secara global, dan bisa mempunyai daya saing yang tinggi. "Ketika menjadi pengurus IDN Global, mata saya menjadi terbuka soal potensi SDM yang luar biasa ini. Saat berkunjung ke Seattle, misalnya, saya bertemu dengan para pakar Indonesia di sektor kedirgantaraan. Mereka bekerja di perusahaan multinasional, seperti The Boeing Company. Mereka ingin memastikan bahwa potensi, keahlian, serta global exposure mereka dapat diberdayakan dan dimanfaatkan secara maksimal. Istimewanya, banyak dari talenta global ini dengan senang hati akan pulang ke tanah air untuk turut membangun bangsa." "Di institusi tempat saya bekerja ada sekitar 25 ribu talenta yang berasal dari 150 negara. Kompetisi seperti ini menentukan daya saing kita di global job market. Namun, saya juga sadar bahwa, selain membawa reputasi sendiri, saya juga menjadi brand ambassador Indonesia. Dalam setiap interaksi saya harus membuktikan bahwa bangsa Indonesia itu mumpuni, profesional, team player, visioner, dan selalu menjadi part of the solution." "Selama lebih dari 25 tahun berkarir, saya telah mengunjungi lebih dari 60 negara. Suatu saat saya akan membawa pengetahuan yang saya dapat untuk bersumbangsih kepada bangsa sendiri, to ensure that our Republic will thrive and our people will prosper." Ketika ditanya mengenai kiat kesuksesannya, ia menjawab: "Pertama kita harus menentukan dulu apa yang dimaksud dengan ‘sukses’. Orangtua saya sejak kecil selalu mendidik saya untuk tidak hanya memikirkan my personal glory, tetapi juga memikirkan kontribusi untuk the greater good. Ini menjadi moral compass saya dalam karir. Bagi saya, sukses dilihat dari apa yang kita bisa kontribusikan kepada masyarakat, komunitas, dan kemanusiaan secara keseluruhan. Tidak hanya sekedar jabatan dan remunerasi yang kita dapatkan. Dari awal memulai karir, saya memang terdorong untuk melakukan public service. Bagi saya, berkarir di sebuah development institution merupakan sarana melakukannya. Seperti kata pepatah: if we love what we do, we don’t have to work a single day in our life. Jadi, karir itu dengan sendirinya akan mengikuti, asal kita mengetahui passion kita." "Almarhum ibu saya adalah sosok yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Beliau tokoh fenomenal yang selalu saya kagumi. Meski datang dari keluarga yang sangat sederhana, berani bermimpi besar dan berpandangan bahwa menuntut ilmu itu sangat penting. Dengan beasiswa, ia berhasil menyelesaikan studi jenjang S3-nya di Amerika Serikat, dalam usia muda; setelah itu, mengabdi sebagai dosen di Universitas Indonesia. Saya melihat pada dirinya: public service through teaching was her passion in life. Saya sangat bersyukur memiliki seorang ibu yang begitu gigih." "Memiliki mentor memang penting, sebab bisa berpengaruh baik dalam kehidupan. Namun, kita harus bisa memilih mentor yang tepat. Selain mumpuni, sisi integritas juga harus dilihat. Track record orang itu harus sesuai dengan visi hidup kita. Kita juga selektif dan kritis terhadap masukan mereka. Mengutip kalimat William Ernest Henley, dalam puisinya yang tertajuk “Invictus”, at the end of the day, we are the master of our own fate, we are the captain of our soul." Saat ditanya mengenai kegiatannya sekarang, Mohamad Al-Arief menerangkan: "Estafet telah diteruskan pengurus diaspora saat ini, we should fully trust their judgment and capability to take the organization to the next stage. Sekarang saya memilih menjadi pemerhati dari jauh dan mendukung upaya teman-teman melalui doa. Jika diminta pendapat, tentu akan saya berikan. Namun, saya tidak akan campur tangan urusan organisasi. Tugas-tugas saya di kantor sangat berat dan memerlukan konsentrasi yang tinggi. Apalagi, dua anak saya sudah beranjak dewasa dan membutuhkan perhatian penuh dari kedua orangtuanya." "Tahun 2022 tahun penting untuk Diaspora Indonesia. Kita akan merayakan satu dekade, sejak CID pertama dilangsungkan. Sudah ada lima kepengurusan IDN Global. Teman-teman pengurus secara sukarela meluangkan waktu dan tenaga untuk berikhtiar bersama. Untuk sepuluh tahun kedepan, let’s take our efforts to another level and we should move from good to great." "Potensi diaspora muda Indonesia di seluruh dunia harus diberdayakan untuk berikhtiar dan berkontribusi menuju visi Indonesia Maju. Saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-100 tahun, pada tahun 2045, visinya adalah menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita yang cukup, jumlah middle-class yang semakin besar, ekonomi yang tangguh, SDM yang mumpuni, kesejahteraan rakyat yang membaik, pengelolaan SDA dan lingkungan yang sustainable, serta pertumbuhan ekonomi yang semakin merata di seluruh pelosok Indonesia. Diaspora muda Indonesia di seluruh dunia saat ini sedang menempa ilmu dan pengalaman secara global. My message to the young Indonesian diaspora, wherever you are, please aim to come home one day, bring your talent and global expertise home, serve your nation and your people. We’re proud of you!"

Selengkapnya...
Profil Diaspora : Mark Gerald Eman

Mark Gerald Eman, yang biasa dipanggil dengan nama Gerald, bukanlah sosok yang asing bagi para diaspora Indonesia. Pada periode 2017-2019 ia menjabat sebagai Presiden Indonesia Diaspora Network Global (IDN Global). Setelah itu dan hingga kini, ia menjadi Chairman Board of Advisors IDN Global. Namun, aktif dalam organisasi diaspora Indonesia sudah dilakukannya sejak lama, khususnya sejak ia bertugas di Myanmar pada tahun 2002. Ketika ditanya mengapa ia tertarik bergabung di IDN Global, padahal sebagai Managing Director of Japfa Comfeed Myanmar Pte. Ltd. agenda kerjanya setiap hari sangat padat, Gerald menjawab, “Karena tinggal dan bekerja di luar negeri, saya ingin bergabung dengan komunitas yang dapat menghubungkan saya dengan tanah air. Saya memutuskan untuk bergabung dengan IDN Global, karena merupakan organisasi dengan jaringan diaspora Indonesia yang terbesar di seluruh dunia. Melalui IDN Global, saya ingin turut berkontribusi secara aktif untuk kemajuan Indonesia”. Label karir, keorganisasian, dan Myanmar sangat melekat pada diri Gerald. Bagi Gerald, Myanmar memberinya banyak sekali pengalaman dan pembelajaran dalam hidup. “Yang sangat berkesan selama tinggal di negara ini adalah saya bisa belajar untuk bekerja sekaligus berorganisasi. yang memberikan banyak manfaat. Terlebih saat saya berada dalam tiga organisasi sekaligus (pada saat yang sama) yaitu perusahaan tempat saya bekerja, organisasi masyarakat Kerukunanan Indonesia Myanmar (KIM), dan juga IDN Global," ujarnya. Gerald menambahkan keadaan ini mendorongnya untuk tumbuh, baik dalam pengetahuan, ketrampilan, maupun kedewasaan untuk mengerti lingkungan baik di perusahaan mapupun organisasi. "Pengalaman ini sangat membantu saya, terutama saat Myanmar mengalami keadaan tidak stabil dan berhadapan dengan faktor keamanan yang tidak pasti, karena kondisi politik dan pandemi," imbuhnya. Berkarir di luar negeri tentu bukan hal yang mudah karena kompetisinya sangatlah ketat, apalagi untuk dapat sampai di tingkat yang tidak semua orang dapat mencapainya. Sebagai seseorang yang memiliki pengalaman luas dalam hal ini, Gerald berpendapat bahwa kompetensi yang harus dimiliki untuk bekerja di luar negeri adalah memiliki visi dalam berkarir. Visi ini akan menjadi kekuatan saat kita harus keluar dari zona nyaman, termasuk menghadapi tantangan mulai dari persaingan kerja, kendala bahasa, hingga budaya. Seperti halnya yang disampaikan Socrates : smart people learn from everything and everyone, average people from their experiences, stupid people already have the answers, Orang-orang yang maju justru merekalah yang mau belajar dari apapun dan siapapun. Gerald mengatakan meski sibuk dalam berkarir tidak lantas mengabaikan kegiatan lainnya seperti berorganisasi dan memperhatikan keluarga. “Kalau saya membaginya berdasarkan skala prioritas. Saya meluangkan waktu banyak untuk berbicara dengan keluarga. Saya juga menyisihkan waktu untuk membaca dan berolahraga secara teratur. Setiap menit itu sangat berguna. Menurut saya, segala sesuatu pasti dapat dikerjakan, baik itu pekerjaan, organisasi, ataupun keluarga. Yang perlu diingat adalah bahwa kita tidak perlu tergesa-gesa untuk memutuskan sesuatu. Saya pribadi tidak suka untuk menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang sama. Saya cenderung untuk melakukan satu hal dalam satu waktu,” ujar Gerald. Ketika ditanya mengenai sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya, Gelard menjawab: “Peran orangtua sangat berpengaruh dalam cara berpikir saya hingga membuat saya bisa sampai di posisi saat ini. Saya juga sangat beruntung, karena banyak memiliki mentor yang saya temukan dari pimpinan di perusahaan dan melalui organisasi diaspora Indonesia. Seperti Pak Dubes Ito Sumardi, Pak Dubes Iza Fadri, Almarhum Dubes Sebastianus Soemarsono, Ibu Menlu Retno Marsudi, Pak Dino Patti Djalal, dan rekan di IDN Global yang banyak memberikan masukan terutama dalam melaksanakan tugas-tugas", terangnya. Berkaitan dengan keorganisasian diaspora Indonesia, Gerald berpendapat diaspora Indonesia sudah banyak memberikan kontribusi terhadap Indonesia melalui berbagai bidang, sesuai dengan latar belakang masing-masing. Mulai dari bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, budaya dan lain-lain. Namun, para diaspora Indonesia mayoritas masih bergerak secara individu dan bersifat sporadis, sehingga aktifitas yang dilakukan tidak nampak di permukaan, khususnya oleh pemerintah Indonesia. "Jika kita flashback 10 tahun lalu, istilah diaspora itu baru dicetuskan dalam Kongres Diaspora Indonesia pertama kali di Los Angeles tanggal 6-8 Juli 2012. Namun, sekarang istilah diaspora sudah tidak asing lagi di tanah air. Pemerintah sudah mulai menggandeng diaspora dalam program-program yang telah dicanangkan untuk turut berkontribusi. Ini berarti eksistensi diaspora Indonesia sudah diakui pemerintah. Kendati demikian, sampai saat ini pencapaian atau kontribusi riil yang dilakukan diaspora kebanyakan belum termonitor pemerintah. Sehingga diharapkan diaspora Indonesia yang tergabung di berbagai ormas diaspora dapat bersinergi untuk menyusun program besar bersama dan lebih strategis, agar hasil dan pencapaiannya dapat terarah dan kontribusinya untuk tanah air juga kian besar. Di sisi lain, diperlukan juga peran pemerintah yang lebih proaktif dalam mendata potensi diaspora Indonesia di seluruh dunia, agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan untuk membantu program jangka panjang pemerintah dalam memajukan Indonesia," tuturnya. Gerald juga turut berpesan kepada generasi muda diaspora Indonesia untuk memaksimalkan potensi diri dan jaga nama baik Indonesia. "Sebagai representasi Indonesia di mata dunia, tunjukkan SDM Indonesia itu berkualitas dan kita adalah warga kelas dunia”, ucap Gerald mengakhiri wawancara. (ES)

Selengkapnya...

KARTINI SARSILANINGSIH

Presiden IDN Global 2021~2023

Message from the President

It is an honour for me to be the President of IDN Global for the tenure of 2021-2023.  The coming 2 years will definitely be an exciting journey as I am accompanied by a wonderful team of 22 Executive Board members from all over the world with their great enthusiasm and commitment to bring IDN Global to the next level.

“Connecting the Dots, Expanding the Opportunities” will remain the soul of our activities in the years to come. Three core substances of our activities are (1) the awareness, (2) the engagement, and (3) the empowerment of the Indonesian Diaspora. The Indonesian Diaspora are the human capital and the social capital of the nation whose potentials are now recognized by many parties, including the Government. This awareness, of course, does not come over the night; instead, it was almost a decade of engagement effort from all of us. We have proven that working together and empowering each other are important for us as a community and as a nation. This unity will be more important in the effort to recover from the covid-19 pandemic where many Indonesian Diaspora have been badly impacted while some others have been in the lucky position to be able to help.

IDN Global, as the first and the most influential organization which unite the Indonesian Diaspora globally, will always thrive to voice the aspiration of its constituents and to facilitate all their attempt to contribute to the development of Indonesia. 

Last but certainly not least, IDN Global is open for any opportunity to collaborate with its multi-stakeholders if it goes in line with its vision, mission and ethics. 

Salam Diaspora!

— Kartini Sarsilaningsih (Presiden IDN Global 2021~2023)

Lihat Deklarasi Diaspora Indonesia
Wali Dewan