Diaspora berasal dari bahasa Yunani kuno ”διασπορ?” yang berarti penyebaran atau penaburan. Mulanya istilah Diaspora digunakan oleh orang-orang Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang bermigrasi ke wilayah jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasi wilayah itu ke dalam kerajaan.

 

Dalam konteks pergerakan manusia, Diaspora merujuk pada penduduk yang menetap di negara lain karena berbagai faktor, misalnya perang atau mencari penghidupan yang lebih baik. Dalam perkembangan globalisasi, Diaspora menjadi kekuatan ekonomi baru bagi sebuah bangsa. Jika dahulu mereka disebut sebagai perantau, maka istilah tersebut mulai bergeser dengan istilah Diaspora.

 

Bagi penggagas Indonesian Diaspora Network (IDN) Dr. Dino Patti Djalal, istilah Diaspora Indonesia sendiri memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah WNI yang tinggal di luar negeri yakni masih memegang paspor Indonesia secara sah; kelompok kedua adalah warga Indonesia yang telah menjadi warga negara asing karena proses naturalisasi dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia.

 

Sementara bagi warga negara asing yang memiliki orang tua atau leluhur yang berasal dari Indonesia masuk dalam kategori ketiga. Dan kelompok yang terakhir adalah warga negara asing yang tidak memiliki pertalian leluhur dengan Indonesia sama sekali namun memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia. Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Paul Wolfowitz, yang fasih berbahasa Indonesia disebut Dr. Dino Djalal sebagai salah satu contoh kelompok yang keempat. Jika keempat kelompok ini digabungkan, jumlah Diaspora Indonesia diperkirakan mencapai delapan juta orang.

In Ancient Greek language, the term:”διασπορ?” meant dispersion or scattering. Previously, the term Diaspora was used by Greeks to designate the Greek citizens migrating to a colonized country.

Afterward, the word Diaspora was referring to people who came and settled in foreign countries because of many factors, such as war or looking for a better life. Nowadays, in globalization era, the terms Diaspora also became an emerging economy for a nation and the word “perantau” has been changed into Diaspora.

Dr. Dino Patti Djalal, Founder of the Indonesian Diaspora Network (IDN) gave his own interpretation and classified Indonesian Diaspora in four categories:

Firstly, the Indonesian people who still have legally, their Indonesian passports; Secondly, the Indonesian citizens who became foreigner citizens after a process of naturalization and have no longer their Indonesian passports.

The third category is foreigners who have parents or ancestors of Indonesian origin. An the last category is foreigners who have no Indonesian origin at all but love Indonesia.

Dr. Dino Patti Djalal mentioned Former US Ambassador in Indonesia, Mr. Paul Wolfowitz, as someone of the fourth category because he can speak a real excellent Bahasa Indonesia.

Presently, the total number of Indonesian diaspora including the forth category is estimated at eight millions people.